Tuesday, 28 May 2013

Nasib si abadi Edelweiss di Bromo

Bagi anda yang sudah pernah ke bromo, pasti anda tau bunga edelweis.
Ada yang polos, tapi tak jarang ada pula yang diwarnai.
Bunga ini kerap disebut dengan bunga keabadian,karena sifatnya yang tidak mudah layu.
Bunga ini kerap dijadikan buah tangan oleh para turis lokal (mancanegara juga kah??) Maupun oleh pendaki gunung untuk diberikan kepada orang tersayang di rumah.
Anaphalis Javanica. Ya, itulah nama latin dari edelweis.
Bunga ini bisa tumbuh di ketinggian minimal 2.000 mdpl (meter dari permukaan laut).
Bunga ini bisa tumbuh di tanah yang tandus sekalipun, karena bisa membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang bisa memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara.
Di bromo, bunga ini dinyatakan punah. Banyak masyarakat yang memburu bunga cantik ini untuk dijual, seperti yang terlihat di pinggir-pinggir jalan sepanjang sapi kerep hingga cemoro lawang.
Perlu regulasi yang jelas dari pihak TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) untuk menertibkan peraturan ini.
Semoga para rekan pendaki gunung tidak bersifat arogan untuk mengambil dan memetik bunga ini.
Semoga anak cucu kita masih tetap bisa menikmati keindahan bunga ini. Mencumbui indahnya aroma bunga ini.
Dan tidak hanya menjadi cerita dan dongeng sebelum tidur.
Bunga ini mekar antara bulan April dan agustus.
Jadi bagi anda yang ingin menikmati keindahan bunga ini, bisa mendaki pada bulan-bulan tersebut :)
Semoga bunga ini akan tetap abadi di tempatnya.
Salam.